Pemimpin yang Melayani Rakyat

Perayaan Paskah mengandung banyak makna: kasih, pengorbanan, solidaritas, antikekerasan, sukacita, dan pelayanan. Seluruh rangkaian peribadatan Hari Paskah dengan tokoh sentral, Yesus Kristus, sangatlah pekat dengan pesan-pesan ini. Yesus yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit adalah untuk keselamatan umat manusia.

Sepekan menjelang Minggu Paskah, umat Kristiani diajak untuk sejenak terbenam dalam rangkaian peribadatan trihari suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi. Di sini umat Kristiani kembali diingatkan bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk satu tujuan yaitu naik ke atas kayu salib, dan mati untuk dosa-dosa umat manusia di dunia. “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).

Itulah makanya drama penyaliban Yesus, wafat, hingga kebangkitan-Nya pada hari ketiga, selalu melekat erat dengan berbagai macam biblis di atas, teristimewa dua pesan kunci, yakni pengorbanan dan pelayanan. Di hari wafat dan hari raya Paskah, umat Kristiani diharapkan ikut serta dalam gerakan-gerakan penebusan dosa, yang digelorakan melalui semangat pengorbanan dan semangat melayani.

Inti pengorbanan Kristus adalah memberikan diri-Nya supaya manusia hidup. Ia dicerca, dihina, dirajam, disalibkan untuk sebuah pengorbanan, Dia mempertaruhkan nyawa-Nya demi kepentingan banyak orang. Ada juga pesan solidaritas di sini. Dia mengambil tanggung jawab demi orang lain, dan membayar kesalahan-kesalahan orang lain. Inilah bobot pengorbanan seorang Anak Manusia yang namanya Yesus.

Sementara pesan pelayanan Paskah tergambar dengan amat jelas pada peristiwa perjamuan Kamis Putih, ketika Yesus merendahkan diri-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya. Yesus menanggalkan kebesaran-Nya dengan menjadi seorang hamba atau pelayan bagi ke-12 murid-Nya itu.

Perayaan Paskah 2014 ini, sejujurnya, memiliki arti mendalam bagi para umat Kristiani di Indonesia. Tahun ini bangsa Indonesia menggelar pemilu legislatif (pileg) yang baru saja kita lewati pada 9 April 2014 silam. Lalu, pada 9 Juli 2014 mendatang, akan menyusul pemilu presiden (pilpres) untuk memilih pemimpin tertinggi negara dan wakilnya.

Dengan digelarnya kedua momen pemilu tersebut berarti tahun ini kita akan memiliki seorang presiden dan seorang wakil presiden baru, 560 anggota DPR RI, 125 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan lebih dari 2000 anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Akankah mereka yang terpilih kelak benar-benar menjadi pemimpin atau pejabat publik yang mau melayani dan bukan dilayani. Bersediakah mereka menjadi yang berkorban demi orang banyak, dan bukan hanya mencari keuntungan diri sendiri atau kelompoknya?

Sungguh menarik menyimak masa Prapaskah Keuskupan Agung Jakarta 2014 yang mengusung tema: “Dipilih untuk Melayani”. Inilah sebuah ajakan sekaligus sebuah penegasan bahwa siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin atau pejabat publik, pada hakikatnya dia adalah pelayan. Tugasnya adalah untuk melayani rakyat. Seorang pemimpin tak boleh takut bermandi keringat dan berlumuran lumpur untuk melayani rakyat yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin-pelayan akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka yang dilayaninya, ikhlas dalam pengabdian, dan rela berjuang tanpa pamrih. Mereka selalu berada di depan untuk melawan ketidakdilan, ketidakjujuran, tindakan sewenang-wenang, tindak korupsi, dan lain-lain.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang tidak dapat memejamkan mata saat orang yang dipimpinnya tidak dapat memejamkan mata karena masalah-masalah yang sedang melanda mereka. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang merasa tidak enak makan saat orang yang dipimpinnya masih bekerja keras memikirkan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggungan bersama pemimpinnya.

Harga sebuah kepemimpinan yang melayani adalah kesediaan sang pemimpin tersebut untuk berkorban demi orang lain. Bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.

Mereka bersedia untuk tidak populer, mau blusukan untuk menjumpai dan menyapa mereka yang membutuhkan cinta dan perhatiannya. Mereka tidak silau dengan kursi kekuasaannya, jauh dari sikap otoriter, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara daripada kepentingan dirinya sendiri. Bobot kepemimpinan yang melayani selalu menjadikan pengorbanan sebagai mata hatinya.

Di era modern sekarang ini, memang tak mudah kita menemukan pemimpin sejati seperti itu. Pemimpin sekarang ini lebih berkarakter dilayani daripada melayani, lebih sibuk dengan urusan diri dan kerabatnya daripada kepentingan publik. Makanya makna Paskah kali ini menjadi sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.

Di saat kita sedang dilanda kekeringan pemimpin yang melayani, layaklah kita menaruh asa dengan kelak terpilihnya pemimpin baru, dan para wakil rakyat (baru) pada 2014 ini. Tentu, dengan satu harapan besar: jadilah pemimpin yang melayani dengan ketulusan hati dan penuh pengobanan. Pertaruhkan seluruh pikiran, hati, dan tindakan hanya untuk kepentingan rakyat banyak!

Sumber: InvestorDaily Sabtu 19 April 2014

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Fly By Wire dan “Automatic Addiction”

Artikel Harian Kompas hari ini cukup menarik. Ketika hampir semua hal bisa digantikan oleh teknologi, disitulah ada celah yang bisa menjadi hal serius/fatal. Jadi disebutkan ada istilah “automation addiction”.

“Automatic Addiction” merupakan ketergantungan pada teknologi yang serba otomatis. Misal suatu kebiasaan dari pilot yang selalu menggunakan autopilot sepanjang rute perjalanan penerbangannya. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap peralatan yang otomatis dicurigai sebagai penyebab turunnya keterampilan pilot menerbangkan pesawat terbang secara manual.

Secara jam terbang seorang pilot telah mengantungi belasan ribu jam. Akan tetapi sistem otomatisasi membuat pilot hanya berperan sekian menit saat take off dan sekian menit untuk proses landing. Dalam konsisi normal mungkin tidak ada masalah, semua berjalan lancar. Akan tetap pada kondisi darurat ex: sistem otomatis error, pilot masa kini diragukan kemampuan menerbangkan pesawat secara manual dalam situasi darurat. Pilot terlambat menyadari terjadinya kekeliruan dalam sekuel penerbangannya.

Teknologi “Fly by Wire” saat ini yg serba komputer memang canggih tapi tentu selalu ada kelemahannya. Ya kelemahan seringkali ada pada “user” itu sendiri.

Sumber: Kompas, Selasa 11 Maret 2014

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Teknologi itu Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Seringkali teknologi social media itu Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat…

“I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” Albert Einstein

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kalau Begini Siapa yang Salah?

Kalau begini siapa yang salah?

Sebuah mobil polisi (Lancer Patroli) diseruduk Toyota Kijang Innova di depan kampus UIN Yogyakarta Minggu 23 Februari 2014. Padahal di sini terpampang rambu tidak boleh putar balik / U Turn, tapi mobil patroli polisi yang satu ini ternyata putar balik. Mungkin Innovanya tidak mengira mobil patroli ini bakal putar balik, dan tabrakanpun tak terhindarkan.

Rumornya mobil patroli ini muter di jalur yang salah dengan dalih pengamanan RI-1 Kemarin memang SBY sedang berkunjung ke Jogja.

Seharusnya ke-2 pihak harus lebih hati-hati dan menaati rambu-rambu lalu lintas.

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Should Food Photos be Banned from Restaurants?

Should food photos be banned from restaurants?

Top chefs in France campaign to end the culture of ‘food porn’ (mereka menyebutnya dengan food porn.haha) and ban mobile phone photos from their restaurants.

Food is for eating, not sharing on social media, say leading chefs.

Yah memang memotret makanan di restoran saat ini sudah menjadi bagian dari kultur media sosial. Meng-upload foto makanan ke Instagram atau Twitter pun sudah menjadi keharusan, entah apa maksudnya. Ingin membuat orang lain ngiler, atau untuk menunjukkan bahwa ia seorang petualang kuliner sejati.

Tentu ini pro kontra. Disatu sisi bisa lebih mempromosikan kuliner mereka, disisi lain bisa jadi menjadi boomerang bila ada caci maki mengenai pelanggan yang tidak puas dengan santapan mereka.

Reference: http://www.theprovince.com/news/Food+eating+sharing+social+media+leading+chefs/9514965/story.html via @theprovince

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bu Risma dapat Penghargaan Internasional lagi. #SaveRisma

Wuih. Bu Risma dapat penghargaan internasional lagi. #SaveRisma

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terpilih sebagai Wali Kota Bulan Ini atau Wali Kota Terbaik Bulan Ini (Februari 2014) oleh City Mayors.

City Mayors atau City Mayors Foundation adalah lembaga yang berfokus pada pembangunan/kebijakan urban (kota) di dunia yang berbasis di London Inggris. Lembaga ini berdiri tahun 2003 dan setiap tahun menganugerahkan World Mayor untuk wali kota dari berbagai negara yang dianggap berprestasi.

Perlu diketahui, di Indonesia, Mayor disebut dengan Walikota. Lembaga ini memberi penghargaan kepada para Walikota yang memiliki visi, keinginan, dan kemampuan untuk membuat kotanya menjadi tempat yang menyenangkan untuk ditempati, dikunjungi, dan nyaman untuk bekerja. The World Mayor Project bertujuan untuk memperlihatkan pencapaian Walikota dan mengangkat profile mereka secara nasional dan internasional.

Pemerintahan lokal yang baik dan jujur adalah dasar dari setiap negara yang mengupayakan agar masyarakatnya merasa senang, aman dan berhasil. Walikota yang tidak kompeten, korupsi dan berkelakuan buruk merupakan ancaman fundamental terhadap perilaku masyarakatnya.

Syarat kualitas kandidat Walikota terbaik versi City Mayors Foundation adalah: kejujuran, kepemimpinan, visi, kemampuan manajemen, integritas, kesadaran sosial ekonomi, kemampuan memelihara keamanan, melindungi lingkungan serta kemampuan menjalin hubungan diantara berbagai komunitas dari berbagai kultur, ras dan sosial.

Walikota yang disertakan dalam The Wold Mayor Prize akan diminta untuk menandatangani Kode Etik dengan 12 klausul diantaranya berjanji untuk tidak korupsi, tidak melakukan diskriminasi terhadap individu, maupun kelompok masyarakat berdasarkan suku, agama, gender, kodisi fisik maupun sexual orientation (gay, lesbian, transgender).

Mudah-mudahan setelah Joko Widodo (pada 2013) dan Tri Rismaharini (2014), ke depan ada lagi pemimpin daerah yang dapat penghargaan seperti ini karena memang benar-benar bekerja mengelola daerahnya.

Referensi: http://www.citymayors.com/mayors/surabaya-mayor-tri-rismaharini.html

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Waspada Risiko Jangka Panjang Abu Vulkanik Kelud

Waspada Risiko Jangka Panjang Abu Vulkanik Kelud

TEMPO.CO, Jakarta – Menurut Ceva W. Pitoyo, dokter spesialis penyakit dalam, umumnya orang beranggapan bila debu vulkanik yang mencapai jarak jauh tidak terlalu membahayakan. Alasannya, debu itu sangatlah halus.

Tim dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika memasuki dua-tiga pekan setelah bencana letusan gunung. Sebab, paparan yang sedikit tetapi terus-menerus menyebabkan penyakit paru atau gangguan pernafasan yang cukup akut.

Source: http://www.tempo.co/read/news/2014/02/19/060555650/Waspada-Risiko-Jangka-Panjang-Abu-Vulkanik-Kelud

View on Path

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar