Mencari Solusi Krisis Keuangan Eropa

Artikel tentang solusi krisis keuangan Eropa ini bersumber Majalah Futures, November 2011 yang ditulis oleh Ariston Tjendra, Head of Research and Analyst Monex. Jika ingin menjadikan sebagai sumber referensi tugas kuliah, paper dan sebagainya, cantumkan sumber dan penulis aslinya.

Eropa tengah memasuki periode yang nyaris sama dengan apa yang pernah dialami Amerika Serikat (AS). Jika Amerika harus mem-bailout perusahaan-perusahaan besarnya pada 2008-2009 lalu, maka kini otoritas Eropa juga menghadapi kewajiban serupa. Perbedaan hanya terletak pada objeknya, mengingat pihak yang harus ditangani oleh Uni Eropa adalah sebuah negara. Dilema saat ini apakah negara yang terkena krisis hutang teramat parah harus dinyatakan bangkrut atau justru di-bailout sepenuhnya?

 

Masalah krisis hutang Eropa seakan dibiarkan berlarut-larut oleh para pemimpin dalam kawasan. Tidak ditemukannya kesepakatan yang komprehensif membuat masalah tersebut jadi terkatung-katung. Ada tarik ulur kepentingan dalam mencari solusi. Maklum saja, Uni Eropa bukan hanya satu negara, melainkan terdiri dari banyak negara dengan kepentingan yang berbeda-beda. Sehingga dibutuhkan waktu negosiasi yang panjang dan alot untuk menyatukan persepsi dan visi bersama.

Persoalan hutang Eropa, yang sudah terjadi selama dua tahun terakhir, masih belum usai. Dari seluruh negara yang termasuk dalam akronim PIIGS, tinggal Spanyol dan Italia yang belum mendapat bailout.

Akan tetapi kedua negara besar ini sudah mengalami penurunan peringkat hutang dan mulai kesulitan mendapat pinjaman dengan biaya murah. Jika terus dibiarkan, kedua negara dapat menyusul tiga rekannya yang sudah lebih dahulu mendapatkan bailout. Apabila skenario itu terbukti, tingkat destruktif bagi zona euro akan jauh lebih besar dibandingkan efek dari Yunani, Portugal dan Irlandia.

Saat ini persoalan Eropa masih terkonsentrasi pada Yunani. Apakah status default akan diberikan pada Yunani atau tidak? Dari pembicaraan yang berkembang, wacana pemangkasan hutang kemungkinan besar akan disetujui. Adapun besaran yang dibebankan secara sukarela kepada pihak swasta adalah 21%. Namun gagasan ini segera terbantahkan kembali karena Jerman menginginkan partisipasi lebih dari pihak swasta, yakni sebesar 60%, sehingga negara tidak terlalu terbebani.

Efek dari pemangkasan hutang Yunani akan sangat negatif bagi para kreditur Yunani, yaitu pihak perbankan dan institusi lainnya. Pihak kreditur akan kehilangan uang dan terkikis komponen permodalannya, sehingga turut membutuhkan injeksi modal baru. Sudah ada dua bank besar yang kelimpungan akibat krisis hutang Eropa, yaitu Dexia (bank asal Prancis dan Belgia) dan bank Erste dari Austria. Bukan tidak mungkin bank-bank lain akan bernasib serupa, terutama bank-bank asal Prancis yang banyak memberikan kredit untuk Yunani. Jika benar adanya, maka perekonomian Prancis akan terguncang.

Solusi mengenai masalah Yunani semakin tidak pasti karena ketidaksepahaman antara dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di zona euro. Perbedaan utama antara Jerman dan Prancis adalah soal jumlah pemangkasan hutang Yunani yang akan ditanggung oleh pihak swasta secara sukarela.

Ketidakpastian bukanlah hal bagus bagi pasar keuangan. Pergerakan harga yang terjadi beberapa minggu terakhir, dimana harga naik turun tanpa tren jelas, menunjukkan bahwa pasar menunggu kepastian solusi dari zona euro.

Uni Eropa juga sedang melakukan kompromi tentang rekapitalisasi perbankan. Bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, Uni Eropa meminta institusi perbankan di kawasan untuk menambah kecukupan modalnya. Bagi bank yang tidak bisa menaikkan jumlah modal sendiri, pemerintah atau pihak dari zona euro akan menyertakan modal di bank tersebut. Sama seperti rekapitalisasi yang dilakukan Amerika terhadap bank-bank besarnya.

Kini yang menjadi masalah adalah, dari mana asal dana rekapitalisasi? Berapa besar anggaran untuk itu? Dan siapa pihak penyelenggara rekapitalisasi serta apa kriteria bank yang patut di-rekapitalisasi? Menurut beberapa sumber, konsensus pasar melihat bahwa zona euro akan menganggarkan dana sebesar 200 miliar euro untuk program rekapitalisasi ini. Tetapi menurut analisa European Banking Authority (EBA), jumlah likuiditas kemungkinan berada di bawah level tersebut, yakni sekitar 80 miliar euro. Prancis meminta European Financial Stability Facility (EFSF) menjadi penyuntik modal pertama bagi bank-bank yang memerlukan. Negara ini enggan menggunakan dana negara. Sedangkan Jerman justru memunculkan ide sebaliknya sehingga memicu perdebatan.

Masalah rekapitalisasi menjadi makin pelik karena beberapa bank besar, seperti Deutsche Bank, tidak menginginkan penyertaan modal dari pemerintah. Mereka lebih memilih untuk menjual aset atau menurunkan plafon kreditnya guna memenuhi syarat rasio permodalan. Namun hal ini akan membuat pelaku bisnis kesulitan mendapat pembiayaan untuk mengembangkan usahanya dan memperburuk perekonomian Eropa.

Beberapa pihak di Eropa juga menghendaki penambahan dana, agar EFSF mampu berperan lebih besar dalam upaya penyelamatan negara-negara dengan krisis hutang. Ekspansi kapasitas EFSF bertujuan agar masalah tersebut tidak menyebar ke seluruh kawasan. EFSF telah diberi mandat baru untuk memberi suntikan modal bagi perbankan bermasalah sekaligus membeli surat hutang. Dengan dana yang dimiliki saat ini, yakni sebesar 440 miliar euro, EFSF dianggap tidak cukup mampu untuk menjalankan tugas-tugas tersebut. Apalagi dana yang ada sudah dipakai untuk mem-bailout Yunani, Irlandia dan Portugal sehingga kekuatan riilnya tinggal sekitar 250 miliar euro. Angka ini dianggap masih kurang untuk mem­bailout negara besar seperti Spanyol dan Italia (bila keduanya ikut terseret krisis hutang) dan menenangkan ekonomi Eropa. Sebagian analis mengatakan bahwa EFSF idealnya membutuhkan dana sekitar 2000 miliar–3000 miliar euro.

Sampai tulisan ini dirilis, para petinggi Eropa masih berkompromi mencari solusi komprehensif dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Eropa. Banyak pihak skeptis jika hasil pertemuan kali ini benar-benar mampu menyelesaikan krisis hutang Eropa. Sementara bagi para pelaku pasar, solusi komprehensif yang dihasilkan KTT akan membangkitkan kembali minat terhadap aset beresiko. Namun bila yang terjadi sebaliknya, maka pasar akan kembali ke jalur konsolidasi alias masuk ‘wait and see mode’. Memasuki bulan November ini, bukan hanya masalah Eropa yang menjadi penggerak pasar. Isu pelonggaran kuantitatif ke-3 (QE3) dari Federal Reserve AS (Fed) juga akan mempengaruhi fluktuasi harga. Dari berbagai pidato dan pernyataan yang dilontarkan oleh petinggi the Fed sepanjang Oktober, otoritas berpotensi merilis pelonggaran kuantitatif untuk memulihkan perekonomian AS dalam waktu dekat. Isu tentang peluncuran QE3 akan menyemangati pelaku pasar untuk kembali pada instrumen-instrumen yang lebih beresiko dan ber-yield tinggi.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Finance n Economy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s