Analisis Kasus PT Adaro Indonesia dan Coaltrade International Pte Ltd


Struktur Korporasi PT Adaro Indonesia

  1. Harga transfer yang diberikan pada Coaltrade jauh dibawah harga pasar, hal ini menyebabkan ketidakwajaran harga transfer. Harga jual yang ditetapkan yakni sebesar $25 pada tahun 2005 dan $29 pada tahun 2006, padahal pada akhir 2007 harga batubara menembus harga $95 per ton. Sehingga PT Adaro sudah menyalahi prinsip arm’s length profit atau prinsip kewajaran. Kewajaran yang dimaksud adalah harga transfer yang sesuai dengan harga wajar yang terjadi seandainya transaksi dengan pihak ketiga.
  2. Ditemukannya dugaanTax Avoidance (penghindaran pajak) yang dilakukan PT Adaro Indonesia. Transfer pricing yang dilakukan memiliki motif untuk menggeser penghasilan kena pajak mereka di Indonesia ke Coaltrade Singapura yang dikenal sebagai salah satu tax heaven countries, dengan begitu grup Adaro melalui Coaltrade hanya terkena pajak penghasilan Singapura sebesar 10%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia yakni 45%.
  3. Struktur kepemilikan Coaltrade yang mirip dengan Adaro. Sehingga muncul dugaan Coaltrade memang sengaja dibentuk sebagai perusahaan boneka yang bertugas menjual batubara sekaligus usaha menjalankan praktek tax avoidance di Singapura.

2. Transfer Pricing sebenarnya merupakan hal yang legal, selama harga transfer yang digunakan sesuai dengan prinsip kewajaran yaitu berada pada kisaran/range harga pasar yang ada. Nah, menjadi disfungsional ketika:

  1. Menyalahi prinsip kewajaran atau arm’s length principle harga transfer ke pihak ke-3 (luar grup perusahaan) tidak sebanding dengan harga transfer ke pihak afiliasi (anak/grup perusahaan yang memiliki hubungan istimewa).
  2. Suatu divisi menetapkan harga transfer terlampau tinggi guna mengejar laba mereka sendiri, ROI divisi mereka dan kompensasi perusahaan untuk divisi mereka.
  3. Keputusan harga transfer yang ditetapkan salah satu divisi telah menggerus / merugikan laba divisi lain dalam satu perusahaan, hal ini bertentangan degan tujuan organisasi perusahaan itu sendiri dan berpotensi menimbulkan konflik organisasi.
  4. Transfer pricing menjadi usaha perusahaan untuk penghindaran pajak, dimana dibanyak negara praktek semacam ini dilarang atau dianggap illegal.

Jika melihat kasus PT Adaro Indonesia dan Coaltrade International Pte Ltd, maka transfer pricing yang telah dilakukan telah terarah pada tujuan/motif  untuk penghindaran pajak.

Dampak dari disfungsional transfer pricing:

  1. Pada perusahaan itu sendiri:

–          Berdampak pada pengukuran kinerja divisi, harga transfer yang digunakan akan mempengaruhi biaya divisi pembeli dan pendapatan divisi penjual. Maksudnya divisi yang meenjual akan memasang harga yang tinggi agar meraup laba yang besar, sebaliknya divisi yang membeli berharap harga yang rendah untuk mereka. Otomatis hal ini akan mempengaruhi laba mereka yang digunakan dalam pengukuran kinerja dan kompensasi para manajer divisi.

–          Sesuai dengan tujuan dari transfer pricing yang salah satunya adalah “optimal determination of taxes” atau mengoptimalkan pajak yang bearti perusahaan berusaha mengatur pengenaan pajak pada laba mereka agar tidak terlalu tinggi. Hal ini tentu akan berdampak pada laba bersih mereka.

–          Resiko perusahaan untuk dituntut dakwaan melakukan pelanggaran hukum disuatu negara yaitu menjalankan transfer pricing yang bertujuan utama memang untuk menghindari pajak. Misalnya di Indonesia Direktorat Jenderal Pajak telah memiliki undang-undang terbaru yaitu Peraturan Dirjen Pajak No. 43/PJ/2010 tentang Pengaturan Transfer Pricing, Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi antara WP dengan Pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa.

  1. Pada pemerintah Indonesia:

–          Hilangnya potensi penerimaan pajak di Indonesia karena perusahaan multinasional yang nakal cenderung menggese kewajiban pajaknya ke negara-negara lain yang menerapkan tariff pajak rendah.

–           Membuat iklim investasi menjadi buruk terkait pelanggaran Good Corporate Governance

3.         Permasalahan transfer pricing yang disfungsional tidak harus dicampuri oleh manajemen tingkat pusat karena maksud perusahaan menerapkan transfer pricing adalah menetapkan otonomi tiap divisi. Jadi, tidak ada campur tangan manajemen puncak terhadap kebebasan manajer divisi dalam pengambilan keputusan.

Sehingga agar tidak terjadi masalah, dibutuhkan  keselarasan tujuan antara divisi dan perusahaan. Dalam artian manajer divisi harus mengambil keputusan yang akan memaksimumkan laba perusahaan dengan memaksimumkan laba divisinya.

Ketika manajer divisi memutuskan harga transfer yang tidak sejalan dengan tujuan perusahaan barulah manajer pusat perlu mempertimbangkan untuk mempelajari dan mencampuri  keputusan  harga transfer dari manajer divisi tersebut.

Untuk masalah harga transfer PT Adaro:

Karena pada kenyataannya PT Adaro berhasil lolos dari gugatan hukum, dimana pengadilan kurang memiliki bukti yang kuat terhadap praktek transfer pricing yang dilakukan PT Adaro. Maka, pemerintah harus memiliki instrument hukum yang jelas. Misal belum lama ini muncul Peraturan Dirjen Pajak No. 43/PJ/2010 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi antara WP dengan Pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa, yang diharapkan bisa mampu mempersempit ruang gerak para pengemplang pajak yang berlindung di bawah transaksi afiliasi.

 

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Kuliah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s