Beberapa Filosofi Jawa yang Bagus (1)

Tulisan kali tentang filosofi atau filsafat saya ambil dari teks misa ketika saya ke gereja beberapa waktu yang lalu, yaa sengaja saya tulis karena memang arti dan maknanya masing-masing bagus untuk motivasi dan pedoman hidup kita agar menjadi lebih baik. Selamat Membaca dan Merenungkan🙂

“Urip Iku Urup” artinya “Hidup itu Nyala”,  Hidup kita itu hendaknya memberi manfaat bagis segenap orang lain yang berada disekitar kita. Semakin besar kita bisa memberikan manfaat dan berguna bagi khalayak ramai, kualitas hidup kita pun juga akan lebih baik..

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”  artinya Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagian dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Tugas kita selagi hidup di dunia ini adalah mengusahakan bonum coummune yang didalam bahasa politik sering diterjemahkan sebagai kebaikan atau kesejahteraan bersama untuk segenap masyarakat. Kita meminimalisir segala bentuk kejahatan dan wujud keserakahan.

“Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” artinya: Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Cinta tanpa pamrih akan mengalahkan segala bentuk kekerasan hati. Dalam bahasa Latin ada ungkapan Caritas Christi urget nos yang kurang lebih bisa diartikan “kasih Tuhan mendorong kita untuk berbuat banyak bagi sesama”. Bisa juga kita artikan “kasih mengalahkan segala angkara murka”.

“Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha. artinya: Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang Tanpa harus merendahkan atau mempermalukan orang lain; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan. Apalah arti hidup ini bila kita dimusuhi orang lain karena ulah ita sendiri. Rasa-rasanya tiada guna kita memuja diri dengan segala atribut duniawi berbentuk kekuasaan ,kekayaan, penampilan fisik, kalau nyatanya kita memiliki kawan. Pun pula  tidak perlu juga kita membuat orang lain ingin malu atau sakit hati hanya karena kita ingin “balas dendam”. Jauh lebih bermartabat, kalau kita berani mengampuni orang lain dan memberi maaf, sekalipun yang bersangkutan barangkali tidak mau mengaku salah dan tidak mau berdamai dengan kita. Kebesaran jiwa seseorang justru terbaca ketika berani mengaku salah dan minta maaf, pun rela mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.

“Datan Serik lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan” artinya Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpad diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu. Memiliki benda itu perlu namun tidak perlu menumpuk. Benda atau harta harus diperlakukan sebagai “sarana” dan bukan “tujuan hidup”. Tujuan hidup kita tak lain adalah memuji kebesaran Tuhan, melayani sesama dan berbakti kepada Sang Pencipta melalui karya kasih kepada sesama.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Life Experience and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s