Kasus Pelanggaran Praktik Akuntansi dan Etika Bisnis: Saham Rontok, Kepercayaan Anjlok

Tulisan ini mengenai Kasus Pelanggaran Praktik Akuntansi dan Etika Bisnis, Praktik tata Kelola Perusahaan.

Bagi yang tahu sepenggal cerita bisnis tentang Enron mungkin tahu hal ini. Akhir tahun 2002, di Amerika Serikat, raja perdagangan energi yang sebelumnya berkali-kali terpilih sebagai perusahaan yang mengagumkan itu mengu­mumkan kebangkrutannya.

Tentu saja ini berita mengejutkan set­elah serangan teroris pada gedung WTC setahun sebe­lumnya. Bagaimana tidak,Enron selama ini adalah perusa­haan yang penuh puja-puji. Bahkan pada 2001, Enron masih melaporkan rapor keuangan yang seperti biasanya, mengagunlan bagi para investor: penda­patan mencapai US$ 100 miliar, laba US$ 3,8 miliar. Buat perusahaan sebesar Enron, tak ada yang mengira kematian datang tiba­ tiba se tahun berikutnya ketika melaporkan kerugian US$ 50 miliar.

Kebangkrutan ini membuat pelaku pasar modal nangis bombay karena rugi US$ 32 miliar dan ribuan pegawai Enron kering airmatanya akibat dana pensiunnya sebesar US$ 1 milliar yang lenyap itu berangkat dari praktik window dressing. Manajemen Enron di bawah kepemimpinan Ken Lay dan jeffSkilling telah menggelembungkan pendapatan sebesar US$ 600 juta sembari menyembunyikan utang US$ 1,2 miliar.

itu baru sepenggal cerita Enron yang sudah terkenal.

Tahu Olympus?

Produsen kamera dari Jepang yang cukup trekenal juga tersandung masalah terkait praktika kuntansi dan pelanggaran etika bisnis.

Berawal dari tuntutan mantan CEO-nya, Michael Woodford, skandal husuk yang sudah disimpan rapat oleh pihak manajemen Olympus selama 20 tahun akhirnya terbongkar. 

Terungkapnya hal ini bermula dari permintaan Wood­ford terhadap perusahaan berumur 92 tahun ini untuk men­jelaskan transaksi akuisisi sebesar US$ 1,3 miliar (Rp 11 triliun) yang menurutnya janggal. Woodford mencium bau busuk. Ada yang salah dari kebijakan yang diambil. Dia curiga dana tersebut mengalir ke pos yang salah.

Awalnya – seperti lazimnya skandal yang mesti ditutup rapat – manajemen Olympus menyangkal mati-matian. Namun, lewat jalan berliku, akhirnya produsen kamera asal jepang itu mengakui  telah menyembunyikan kerugian investasi di perusahaan sekuritas selama 20 tahun, sejak 1980-an.

Aib ini bermula dari akuisisi Olympus atas produsen peralatan medis asal Inggris, Gyrus, tahun 2008, Transaksi senilai US$ 2,2 miliar (Rp 18,7 triliun) ini juga melibatkan biaya lain, yakni ongkos penasihat yang mencapai US$ 687 juta (Rp 5,83 triliun) dan pemba­yaran kepada tiga perusahaan investasi lokal senilai US$ 773 juta (Rp 6,57 triliun).

Belakangan terungkap, biaya lain tersebut (ongkos penasihat dan perusahaan investasi lokal) adalah akal-akalan Dana itu diguna­kan untuk menutupi kerugian investasi di dua dekade lalu. Modus ini pun terlihat terang benderang lantaran pembayaran bunga tiga perusahaan investasi lokal itu dihapus bukukan. (Majalah SWA #27 Des 2011)

Apa atau siapa yang salah dari tiap kejadian semacam kasus diatas?

Setiap perusahaan tentunya memiliki code of conduct, berisi aturan etika yang harus dijalankan perusahaan dari pihak pemilik, manajemen atas hingga karyawan.

Nilai moral biasanya tertulis dalam code of conduct ini seperti:

“As officer and employees of Enron Corps., its subsidiaries, and its affiliated companies, we are respon­sible forconducting the business affairs of the companies in accordance with all applicable laws and in a moral and honest manner.”

dilarang menguntungkan diri sendiri atau bertindak demi keuntungan pihak lain, diminta menjaga nama baik perusahaan dengan standar moral yang tinggi dan sederet aturan lain yang amat hebat.

Aturan etika sudah tersedia, namun mengapa masih terjadi pelanggaran etika??

Seringkali, aturan yang sudah sangat baik itu, bukan karyawan yang melanggar aturan itu, melainkan para pembuatnya sendiri alias manajemen tingkat atas yang melanggarnya.

Corporate governance dan etika yang sesungguhnya bukanlah seperangkat aturan formal. Ini tentang hati. Tentang ke­jujuran. Khususnya untuk pemimpinnya. Akuntabilitas para pemimpin adalah sesuatu yang tak bisa dinegosiasikan ke seluruh pemangku kepentingan.

Keserakahan para pemimpin membuyarkan itu semua. Etika pun akhirnya hanya seperangkat aturan yang bersifat lentur, digunakan sesuka hati, dan disimpan di bawah karpet manakala tidak rnenguntungkan. Etika hanya tertulis rapi di atas kertas, tidak dihidupkan dalam peri­laku keseharian.

Lantas, harus dari mana untuk memulainya?

Tentu saja seluruh elemen perusahaan wajib menjalankan etika yang dituliskan. Perilaku etis pemimpin  akan sangat berpengaruh pada karyawannya.

Kesimpulan: Agar tata kelola perusahaan yang baik dapat berjalan, pemimpin mesti mencontohkan lebih dulu sebelum meminta karyawan bertindak etis.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Finance n Economy and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s