Tiru China: Hukuman Mati untuk Koruptor

Hampir setiap hari atau bahkan tiap hari kita disajikan oleh tayangan berita yang menampilkan berita koupsi yang terjadi di Indonesia. Sampai-sampai saya bosan melihatnya.. Sangat menyedihkan…

Memprihatikan?? Tentu saja yaa.. Perbuatan korupsi di negeri ini tidak saja memprihatinkan tetapi benar-benar sudah sangat menyeramkan. Tanpa bermaksud lebay, korupsi di Indonesia sudah masuk kategori bahaya karena butuh perjuangan dan cara-cara luar biasa untuk memberantas korupsi yang kian terorganisasi dan makin merajalela.

Berdasarkan data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), saat ini terdapat sedikitnya 170 kepala daerah yang sedang menjalani proses hukum terkait dengan tindak korupsi. Padahal jumlah kabupaten/kota dan provinsi menurut data Kementerian Dalam Negeri tercatat sebanyak 530. Ini berarti sekitar 32% pejabat bupati, walikota atau gubernur terlibat dalam tindak korupsi. (Kompas.com)

Wah.wah.wah.. mengerikan bukan?

Jumlah ini belum termasuk tindak korupsi yang dilakukan oleh pejabat di level pemerintah pusat, dan lembaga legislatif maupun yudikatif pada seluruh tingkatan, yang tidak kalah ganas.

Ibarat gunung es, korupsi yang berhasil diungkap selama ini semata-mata hanyalah bagian permukaan saja, sedangkan kedalaman dan jumlah dari kejahatan ini sebenarnya jauh lebih besar. Karena seringkali hanya tersangka korupsi yang perannya masih kecil yang mendapatkan hukuman alias sebagai tumbal dari koruptor kakap yang tidak terjerat hukum.

Begitu banyak kepala daerah yang korup, dapat dibayangkan betapa masifnya tindak kejahatan ini di dalam tubuh pemerintahan.

Korupsi yang di  lakukan oleh kepala daerah, secara tidak langsung akan menciptakan situasi bahwa aparat pemerintah yang berada di bawahnya menjadi semakin permisif terhadap perbuatan korupsi sehingga dari hari ke hari semakin mengakar.

Korupsi merupakan wabah yang paling cepat dan mudah menyebar. Kejahatan ini tidak melulu terkait dengan kerugian negara, tetapi lebih serius dari pada itu yakni menciptakan kesenjangan sosial yang semakin melebar karena triliunan rupiah uang negara tidak dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Korupsi juga menjadi menyebab utama sulitnya menghapus kemiskinan di negeri ini.

Bayangkan saja jika dana APBN senilai triliuanan yang seharusnya untuk mengentaskan kemiskinan, untuk memfasilitasi kesehatan masyarakat serta pendidikan generasi muda bocor dikorup!!

Oleh karena itu, sebelum virus korupsi makin merasuk dan merusak, tampaknya perlu dipikirkan kembali untuk memasukkan hukuman mati  dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Faktanya, vonis hukuman penjara yang dijatuhkan kepada koruptor selama ini ternyata sama sekali tidak mampu memberikan efek jera. Perangkat hukum yang ada tak berdaya membendung gelombang korupsi.

Malah sebaliknya, ada upaya yang semakin jelas, sistematis dan tanpa malu-malu untuk melemahkan peran dan fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Tragis sekali, karena pihak ksatria putih yang ingin membela kebenaran malah diserang sendiri oleh gank koruptor di Indonesia.

Kejahatan yang luar biasa ini tampaknya hanya bisa diatasi dengan cara-cara yang juga luar biasa, yakni memberlakukan hukuman mati bagi koruptor.

China semakin bersih dari korupsi setelah banyak koruptor dihukum mati.

Sudah pasti akan terjadi pro dan kontra seperti halnya yang selalu terjadi manakala hukuman mati bagi koruptor mulai didengungkan. Salah satu alasan klasik yang selalu dilontarkan para penentang hukuman mati adalah pelanggaran hak azasi manusia (HAM).

Pertanyaannya, layakkah kita mempertimbangkan HAM terhadap koruptor sedangkan mereka bahkan tidak pernah memikirkan HAM? Dana untuk pengobatan masyarakat kurang mampu maupun sekolah anak-anak malah untuk kepentingan pribadi atau kelompok????????

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in News and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s