Hati-hati Piring Gelas Melamin Kualitas Plastik Sakelar/Stop Kontak

Jika Anda peduli dengan kesehatan keluarga, cobalah sekarang tengok piring dan alat makan melamin yang dipakai seharihari, apakah cukup aman dan tidak meracuni?

Cara paling mudah untuk mengeceknya yakni dengan merebus   piring atau alat makan melamin dalam air mendidih sekitar 30-60 menit memakai panci tertutup.

Pengujian dengan cara direbus ini sebagai analogi ketika alat makan tersebut dipakai untuk menghidangkan sup atau sayur panas.

Jika mengalami perubahan bentuk atau meliuk/melengkung, dapat dipastikan alat makan Anda tidak aman buat kesehatan (nonfood grade). Hal ini tidak akan terjadi bila melamin tersebut memenuhi standar food grade. Pengujian ini menjadi penting karena secara fisik produk melamin nonfood grade sulit dibedakan dengan yang food grade.

Uap air dari rebusan tadi jika terpapar ke mata akan menimbulkan rasa perih dan jika terhirup akan membuat mual dan batuk-batuk. Itu karena uap airnya mengandung zat kimia formaldehid yang terlepas dari ikatan senyawa melamin.

Melamin adalah persenyawaan (polimerisasi) kimia antara monomer formaldehid dan monomerfenol. Jika kedua senyawa bergabung, sifat racun formaldehid akan hilang karena melebur menjadi satu senyawa yakni melamin. Jadi, formaldehid memang telah menjadi bagian dari bahan produksi melamin.

Namun, unsur formaldehid dalam senyawa melamin dapat terurai kembali menjadi monomer yang bersifat racun akibat proses depolimerisasi yang dipicu paparan panas, sinar ultraviolet, gesekan, dan tergerusnya permukaan melamin hingga partikel formaldehid terlepas.

Selain itu, proses produksi yang tidak memenuhi standar dapat menyebabkan pembentukan persenyawaan menjadi tidak sempurna sehingga dapat terjadi residu. Sisa formaldehid dan fenol yang tak bersenyawa itu akan terjebak dalam materi melamin.

Formaldehid yang terjebak ini bila masuk ke tubuh manusia bisa memicu gangguan saluran pernapasan atas, batuk, bronkitis, pneumonia, dan asma.

Sejak sekitar 3 dekade lalu, para peneliti kesehatan telah menemukan bukti bahwa kontaminasi formaldehid menjadi biang penyebab kanker (karsinogenik).

Mengapa bahan berbahaya ini sampai masuk dalam peralatan makan?

Adalah ahli kimia Belgia, Leo Hendrik Baekeland, yang menemukan plastik buatan (sintetis) pertama yang disebut bakelite pada 1907. Temuan ini menjadi cikal bakal dari senyawa melamin.

Dalam perkembangannya, pada awal 1940-an ditemukan cara baru dalam proses produksi di mana melamin juga bisa disintesis dari urea pada suhu 400 celcius Proses produksi ini diaplikasikan a.l. untuk membuat peralatan listrik seperti sakelar dan setop kontak.

Celakanya, cara baru sintesa dari urea ini juga sekarang  dipakai sejumlah perusahaan untuk membuat perangkat makan berkualitas rendah, tanpa memedulikan efeknya terhadap

kesehatan. Harganya yang sangat murah dibandingkan dengan produk melamin food grade, membuat alat makan melamin-urea banyak dipakai penjaja mi ayam dan baso serta warung makan.

Meskipun SNI wajib produk melamin telah diberlakukan sejak November 2009, perangkat makan melamin nonfood grade masih bertebaran di mana-mana, mulai dari pedagang kaki lima di stasiun kereta api hingga mal. Bahkan, Anda pun mungkin memilikinya di rumah. (chamdan@bisnis.co.id)

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s