Melihat Dampak Redenominasi: di Laporan Keuangan dan di pasar tradisional

Sudah dengar kan rencana redenominasi yang akan dilaksanakan pemerintah mulai 1 Januari 2014?? Yaa memang berita ini sedang ‘bising’. Saya meminjam kata ‘bising’ yang biasa dipakai Pak Dahlan Iskan untuk menyebut berita yang sangat ramai dibicarakan.

Nah, sebenar’a tujuannya cukup baik, menyederhanakanderet angka yang saat ini (dan kedepan) akan semakin panjang.

Orang ekonomi bisa mengatakan seperti ini: Redenominasi itu dilaksanakan agar laporan keuangan menjadi tampak indah, tidak boros digit, serta tampak equal secara psikologis dengan 16 negara dunia.

Nah…itu untuk orang papan atas yang memang dong dan ngeh tentang keuangan..

Nah.(lagi)…Persoalannya… bagaimana dengan orang-orang biasa. Indonesia itu sebagian besar masih sebagai penduduk biasa yang bertransaksi di warung, pasar tradisional hingga pertokoan medium.

 bagaimana mengendalikan harga misalnya katakanlah  harga beras Rp8.500 per kg atau harga sayuran, kopi, gula sampai rokok pada kios-kios kecil tidak terpicu naik karena redenominasi??

Begini…begini..kita ambil contoh..

Karena uang pecahan kecil Rp5 sen tidak ada, maka harga beras dengan harga normal Rp8.500 per kg akan menjadi Rp9 per kg dengan redenominasi.  

Para ibu dan simbok-simbok pedagang di pasar-pasar tradisional itu memiliki cara penyederhanaan sendiri untuk mengatasi tidak adanya pecahan mata uang kecil, misalnya bisa dengan memberikan beberapa ruas cabai rawit atau memberikan beberapa siung bawang merah sebagai kompensasi pada hari itu. Iya ta? Bisa di imbuhi (dibonusi, diapik-i) seperti itu.

Nah (lagi)  pada hari berikutnya, apa ya terus-terusan diimbuhi??? haaaa.ya ga mw rugi…

para pedagang bisa saja malah memanfaatkannya untuk tujuan keuntungan dan akhirnya menerapkan harga baru beras menjadi Rp9 per kg nilai redenominasi.

Terjadilah kenaikan dari seharus-nya harga jual Rp8,5 per kg menjadi Rp9 per kg atau kenaikan sampai dengan 5,88% inflasi untuk satu barang sembako.

Nah taa?? Iya apa tidak?

Makanya , pemerintah harus bener-bener serius menciptakan pecahan mata uang kecil dalam jumlah yang lebih banyak lagi. pecahan di bawah Rp 1 harus diperbanyak agar transaksi tidak dilakukan pembulatan satu digit ke atas yang artinya eskalasi inflasi satu digit.

Jadi… Mata uang kecil harus  mudah ditemui di kios-kios kecil, hal ini untuk menghindari inflasi disebabkan mata uang kecil tidak ada (pembulatan satu digit ke atas).

Tulisan: terinspirasi setelah membaca harian BISNIS INDONESIA 29 Januari 2013.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Finance n Economy and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s