Lagi, Tentang Maskapai Berbiaya Rendah

etika penerbangan murah atau low cost carrier(LCC) diperkenalkan di Indonesia sekitar 1 dekade lalu. Awalnya, banyak orang mencibir. Ada yang menyebut sinis penerbangan jenis ini dengan predikat kelas sandal jepit. Ada pula yang bilang kelas angkot.

Penumpang pesawat udara sangat sering mengeluhkan layanan maskapai LCC yang sangat buruk gara-gara terlambat terbang, tidak mendapat snack/makanan, tidak tersediasajian makanan yang enak, tempat duduk yang kadang overlap dan sebagainya.

Namun, sekarang mindset seseorang mulai berubah dan cenderung pragmatis sehingga kelas penerbangan murah atau maskapai bujet ini pun semakin disukai, dan kini menjadi segmen pasar paling prospektif. Terbukti maskapai Lion Air sukses mengangkut penumpang dengan jumlah yang 2x lipat lebih banyak dari Garuda Indonesia pada tahun lalu.

Fenomena ini terlihat dari sikap para penumpang LCC yang memberikan ruang permakluman dan toleransi yang semakin longgar atas setiap keterlambatan penerbangan ataupun segala ketidaknyamanan lain yang muncul.

Orang makin menyadari bahwa tidak selayaknya menuntut layanan serba prima untuk tiket yang dibeli dengan harga murah. Sebab, harga tiket yang sedemikian rendah memang membawa konsekuensi pada pengurangan sejumlah layanan dari standar penerbangan full service. Maskapai penerbangan pun ditempatkan pada posisi pokoknya yakni sebagai alat transportasi. Tak lebih dari itu.

Sebagai alat transportasi, pesawat terbang hanyalah sebagai moda dan sarana untuk memindahkan orang atau barang dari satu tempat (kota) ke tempat lain. Maskapai bukanlah tempat untuk mendapatkan makanan enak atau tempat duduk nyaman dan lapang untuk berselonjor kaki. Karena umumnya maskapai LCC ini hanya menyediakan penerbangan rute pendek dan menengah.

Perihal keterlambatan pesawat, maskapai LCC memang menerapkan turnover yang tinggi dalam bisnis mereka, dimana pesawat termasuk awak kabin memiliki jadwal yang cukup padat sehingga misalnya, keterlambatan pada jadwal pagi akan menyebabkan keterlambatan beruntun pada jadwal2 berikutnya.

Namun, turnover yang tinggi dan konsep berbiaya rendah yang dimiliki maskapai LCC tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Berbiaya rendah bukan bearti memangkas biaya perawatan/bahan bakar dll. Namun, memangkas biaya-biaya cetak tiket, biaya agen, serta penggunaaan 1 jenis atau tipe pesawat misal seluruh armada Airbus A320 tipe baru yang hemat bahan bakar dengan begitu maskapai bisa menekan biaya bahan bakar dan memudahkan dalam perawatan armada pesawat yang dimiliki.

Selain itu seluruh penumpang didalam pesawat maskapai LCC duduk sama rendah, maksudnya tidak ada kelas. Semua 1 kelas. Tidak ada kelas ekonomi, kelas bisnis.

Kuranglebih seperti itulah gambaran tentang maskapai LCC.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Finance n Economy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s