Masalah BBM: Kita Defisit Minyak Bumi

Sudah sekian tahun ini berita di media massa baik cetak maupun elektronik tak henti-hentinya membahas topik tentang bahan bakar minyak. Mulai dari kuota BBM, harga BBM hingga defisit minyak bumi

Padahal persoalan besar kita saat iini adalah defisit minyak bumi. Jika persoalan defisit minyak ini tak juga dituntaskan, maka masalah minyak bumi menjadi problem bangsa sepanjang masa.

Masih banyak pandangan yang beranggapan bahwa negara kita kaya minyak. Ya itu pada waktu dulu, namun sekarang tidak lagi karena Indonesia saat ini mengimpor minyak mentah dalam porsi besar untuk kebutuhan BBM nasional sedangkan lifting minyak atau produksi minyak kita terus menurun.

Selama akar persoalan defisit energi belum dapat dituntaskan pemerintah, maka krisis energi tetap menjadi ancaman di depan mata.

Kita sepakat subsidi BBM harus dicabut, tetapi sebagian alokasi dana subsidi harus tetap diarahkan untuk investasi pengembangan energi nasional.

Langkah ini jauh lebih bermanfaat bagi kesinambungan energi nasional ketimbang sekadar membagi-bagi lembaran rupiah kepada orang miskin.

Pertama, investasi energi terbarukan. Pemerintah harus serius mengembangkan energi terbarukan yang dapat menggantikan minyak bumi.

Beberapa tahun lalu, pemerintah sempat gencar menggalakkan konservasi biji jarak menjadi bahan bakar, tetapi belum lagi usaha itu selesai, sekarang pemerintah malah berwacana baru, yaitu mengembangkan teknologi bahan bakar listrik sebagai energi alternatif.

Pemerintah juga berjanji akan membangun puluhan pembangkit tenaga listrik yang berbahan bakar batubara dan berenergi alamiah, seperti angin dan ombak, tetapi kenyataannya hanya wacana, no action talk only.

Kedua, pembangunan kilang migas baru untuk menutupi kekurangan pasokan migas dalam negeri. Tidak hanya sekadar membangun kilang baru, usaha konservasi minyak ke gas bumi yang mengalami hambatan beberapa waktu lalu perlu segera dicarikan solusinya.

Kita punya cadangan gas sangat besar yang dapat menggantikan keberadaan minyak bumi yang kian menipis.

Ketiga, nasionalisasi kilang minyak Indonesia yang kadung dikuasai asing. Sungguh lucu rasanya, di usia kemerdekaan RI yang mencapai 68 tahun, tetapi perusahaan migas asing masih merajai.

Sebanyak 80% produksi migas nasional berasal dari kontraktor asing, sedangkan kontraktor lokal hanya 20%.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s