Haul Gusdur dan Pancasila

Diambil dari InvestorDaily. Tulisan oleh: Benni Setiawan, Dosen pada Universitas Negeri Yogyakarta, peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity.

Empat tahun lalu,tepatnya 30 Desember 2009, bangsa Indonesia kehilangan tokoh besar, KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Dialah tokoh yang membawa warna kental terhadap keberagamaan di Indonesia.

Tokoh ini senantiasa berpenampilan sederhana dan kerap melontarkan guyonan segar yang memecah kepenatan. Semua masalah ditangannya menjadi ringan dan cair. Gus Dur menjadi tokoh sentral Indonesia abad ini. Pasalnya, ia merupakan tokoh yang berani berdiri di depan dalam membela pluralisme dan kebangsaan yang aktif.

Maka tidak mengherankan atas keberaniannya ia dijuluki sebagai Bapak Pluralisme. Ia menyatakan bahwa kebangsaan harus didudukkan pada kondisi keberadaban. Kebangsaan Indonesia bukanlah didasarkan pada agama ter tentu, tapi harus diletakkan pada falsafah kebangsaan yaitu Pancasila.

Falsafah Negara
Dalam pandangan Gus Dur, Pancasila perlu didudukkan dalam beberapa hal. Pertama, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara, berstatus sebagai kerangka berfikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk-produk hukum yang lain. Tata pikir seluruh bangsa menurut dia ditentukan oleh falsafah yang harus terus menerus dijaga keberadaan dan konsistensinya oleh negara.

Kedua, sebagai falsafah dan ideologi negara, harus jelas dikatakan “adanya tumpang tindih antara Pancasila dan sebagian sisi kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”. Di sini, Gus Dur berargumentasi, di satu sisi, agama-agama yang ada dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengandung unsur-unsur universal (meskipun semuanya juga mengandung unsur-unsur eksklusif), sehingga sulit dibatasi hanya dalam konteks keindonesiaan. Di sisi lain, Pancasila adalah keindonesiaan itu sendiri.

Gus Dur kemudian menafsirkan bahwa hal ini langsung tampak dalam upaya Pancasila untuk menekankan sisi kelapangan dada dan toleransi dalam kehidupan antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Meski begitu, wawasan tentang kebersamaan antaragama-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak sepenuhnya sama dengan wawasan tentang itu dalam agama-agama dan kepercayaan.

Dari sini kemudian Gus Dur mengakui dua sisi, yakni pertama, adanya independensi teologis kebenaran setiap agama dan kepercayaan, kedua, Pancasila perlu bertindak sebagai polisi lalu lintas dalam kehidupan beragama dan berkepercayaan. Gus Dur menggambarkan ini dengan jelas dalam rumusan sederhana tetapi sangat penting, yaitu; “Semua agama diperlakukan sama oleh undang-undang dan diperlukan sama oleh negara”.

Di sini Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara, memiliki fungsi yang batasan-batasan minimalnya tidak boleh ditundukkan oleh agama-agama dan kepercayaan yang ada.

Kegigihan Gus Dur dalam membela dan mengajarkan arti penting Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan dalam pernyataan tegasnya, bahwa tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. “Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikeberi oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya”.

Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa bagi Gus Dur merupakan fondasi sekaligus tiangtiang dari sebuah bangunan, dan ketika fondasi itu dirobohkan, rumah itu juga pasti ikut roboh. Sebagai fondasi dan tiang-tiang, Gus Dur menganggap Pancasila yang bisa menjembatani untuk mengakomodasi elemen-elemen bangsa yang majemuk.

Meski begitu, Gus Dur mengakui, dalam praktiknya, bagaimana bentuk rumah itu, bisa berbedabeda, meskipun fondasi dan tiang-tiangnya sudah ada. Kenyataannya, Indonesia dengan Pancasila pernah bereksperimen dengan demokrasi liberal, terpimpin, demokrasi Pancasila, dan seterusnya (Nur Khalik Ridwan, 2010).

Kritik Terbuka
Gagasan Pancasila ala Gus Dur ini merupakan kritik terbuka bagi kelompok-kelompok Islam yang ingin mengganti ideologi bangsa.

Bagi Gus Dur, mengganti ideologi Pancasila sama artinya mengoyak kebangsaan dan keindonesiaan. Islam harus diletakkan dalam proses kebangsaan dan keindonesiaan yang berdimensi sosial. Artinya, Islam sudah selayaknya menjadi spirit guna mengurai persoalan kemanusiaan. Ketika kelompok-kelompok Islam lebih disibukkan oleh ide formalisme di dalam kebangsaan dan kenegaraan, maka nilai luhur keagamaannya akan luntur. Karena akan lebih banyak orang berwacana dan berdebat mengenai masalah yang tidak substansial, sehingga gagasan Islam rahmatan lil alamin hilang.

Lebih lanjut, bagi mantan Presiden Republik Indonesia kelima ini, agama-agama harus tunduk atas “aturan” Pancasila. Ketika agama ingin merangsek dan mengganti ideologi bangsa ini, maka kejatuhan dan kerobohan kenegaraan akan terjadi. Karena bangsa ini berdiri bukan atas nama kebangsaan namun atas nama satu kelompok
bangsa.

Gagasan, mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut selayaknya kembali dikaji dan dikembangkan. Artinya, apa yang diretas oleh Gus Dur ini sudah selayaknya terus diuri-uri oleh generasi terkini. Pasalnya, kita melihat hari ini, rongrongan terhadap Pancasila semakin kencang. Suara-suara sumbang tentang Pancasila sudah saatnya dihadapi dengan bahasa santun dan teguh. Bukan dengan nama emosi atau kekerasan.

Pada akhirnya, gagasan Pancasila ala Gus Dur ini sudah selayaknya menjadi pengingat kebangsaan dan keindonesiaan. Pancasila adalah nilai dasar kebangsaan yang perlu dipertahankan dan digali maknanya agar ia tidak lekang dimakan zaman. Pemaknaan Pancasila yang digali dari pemikiran Bapak Bangsa (Gus Dur), seakan menjadi oase di tengah gurun pasir panas yang sedang menyelimuti keindonesiaan.

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s