SALAH URUS KEBUN BINATANG

Jika binatang bisa bicara, seperti konon di masa Nabi Sulaiman, pasti bejibun perkara yang muncul dari Kebun Binatang Surabaya. Dalam rentang 2006-2013, lebih dari 1.600 penghuni taman margasatwa itu mati, 30 persen di antaranya karena stres.

Kausa kematian itu berbagai-bagai, tapi kesimpulannya satu jua: salah urus. Sekitar 50 persen penghuni tewas karena radang paru-paru, radang hati, radang usus, malnutrisi, bahkan kanker. Hanya sekitar 20 persen yang mati karena uzur. Ada pula satwa yang mati tanpa meninggalkan belang atawa gading, melainkan buntalan plastik seberat 20 kilogram di dalam lambungnya.

Kebun binatang merupakan bagian dari paru-paru kota yang terbilang mutlak diperlukan sebagai ruang rekreasi publik. Bahkan pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari kebutuhan itu sehingga, pada 31 Agustus 1916, dengan surat keputusan gubernur jenderal, mendirikan Soerabaiasche Plantenen Dierentuin alias Kebun Botani dan Binatang Surabaya.

Begitu menjadi penghuni kebun binatang, satwa apa pun tidak lagi bisa mengurus dirinya seratus persen. Sebagian besar nasibnya bergantung pada sistem dan cara pengelolaan lembaga yang menampungnya. Bila sistem dan cara pengelolaan lembaga itu busuk, satwa yang ”dicabut” dari habitatnya itu akan mengalami nasib ripuh pula. Situasi bertambah rocet karena sang satwa tak punya tempat mengadu.

Sedari awal, Kebun Binatang Surabaya bukanlah kebun binatang biasa. Hingga masa kemerdekaan, kebun binatang itu merupakan yang terbesar dan terlengkap di Indonesia. Setingkat di bawahnya adalah Kebun Binatang Pematangsiantar, Sumatera Utara, yang sekarang tak ketahuan riwayatnya. Bahkan, pada 1970, Kebun Binatang Surabaya dinyatakan sebagai kebun binatang terlengkap di Asia Tenggara.

Tentu banyak masalah yang membuat Kebun Binatang Surabaya porak-parik. Masalah utama adalah bahwa manusia-manusia yang dipercaya mengurus para satwa itu lebih banyak mengurus diri sendiri ketimbang binatang asuhannya. Mencuri dua kilogram—dari setiap 50 kilogram—daging jatah konsumsi binatang buas untuk dijual ke pedagang nasi rawon, misalnya, hanyalah contoh sederhana. Padahal, sebelum dicuri pun, air minum dan daging jatah para hewan itu sudah terpapar merkuri dan formalin. Temuan lain mengindikasikan pemalsuan tiket masuk kebun binatang, yang mustahil dilakukan para binatang.

Juli 2013 merupakan babak baru pengelolaan Kebun Binatang Surabaya, yang diserahkan ke Pemerintah Kota Surabaya. Tapi belum berarti semua masalah dengan sendirinya terungkai. Masalah utama adalah menolak ”gagasan” kampungan yang ingin mengubah peruntukan lahan kebun binatang itu menjadi kawasan mal dan bisnis. Kalau ”ide” ini diterima, kita tampak lebih tolol ketimbang pemerintah kolonial.

Sebaiknyalah pengelolaan Kebun Binatang Surabaya diserahkan ke badan usaha milik daerah, dengan menggenapi seluruh persyaratan, termasuk izin konservasi. Tak salah pula melakukan studi banding dengan sasaran yang jelas, misalnya ke Kebun Binatang Cincinnati, Ohio (asal-usul harimau putih Kebun Binatang Ragunan dan Surabaya) atau Kebun Binatang Dallas, Texas (asal-usul harimau putih Taman Safari Indonesia). Keduanya termasuk kebun binatang terbaik di Amerika Serikat.

Sumber: Majalah Tempo 9 Februari 2014

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s