Pemimpin yang Melayani Rakyat

mtf_hMOMP_220resize

Perayaan Ekaristi Malam Paskah di Gereja St Antonius Kotabaru

Perayaan Paskah mengandung banyak makna: kasih, pengorbanan, solidaritas, antikekerasan, sukacita, dan pelayanan. Seluruh rangkaian peribadatan Hari Paskah dengan tokoh sentral, Yesus Kristus, sangatlah pekat dengan pesan-pesan ini. Yesus yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit adalah untuk keselamatan umat manusia.

Sepekan menjelang Minggu Paskah, umat Kristiani diajak untuk sejenak terbenam dalam rangkaian peribadatan trihari suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi. Di sini umat Kristiani kembali diingatkan bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk satu tujuan yaitu naik ke atas kayu salib, dan mati untuk dosa-dosa umat manusia di dunia. “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).

Itulah makanya drama penyaliban Yesus, wafat, hingga kebangkitan-Nya pada hari ketiga, selalu melekat erat dengan berbagai macam biblis di atas, teristimewa dua pesan kunci, yakni pengorbanan dan pelayanan. Di hari wafat dan hari raya Paskah, umat Kristiani diharapkan ikut serta dalam gerakan-gerakan penebusan dosa, yang digelorakan melalui semangat pengorbanan dan semangat melayani.

Inti pengorbanan Kristus adalah memberikan diri-Nya supaya manusia hidup. Ia dicerca, dihina, dirajam, disalibkan untuk sebuah pengorbanan, Dia mempertaruhkan nyawa-Nya demi kepentingan banyak orang. Ada juga pesan solidaritas di sini. Dia mengambil tanggung jawab demi orang lain, dan membayar kesalahan-kesalahan orang lain. Inilah bobot pengorbanan seorang Anak Manusia yang namanya Yesus.

Sementara pesan pelayanan Paskah tergambar dengan amat jelas pada peristiwa perjamuan Kamis Putih, ketika Yesus merendahkan diri-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya. Yesus menanggalkan kebesaran-Nya dengan menjadi seorang hamba atau pelayan bagi ke-12 murid-Nya itu.

Perayaan Paskah 2014 ini, sejujurnya, memiliki arti mendalam bagi para umat Kristiani di Indonesia. Tahun ini bangsa Indonesia menggelar pemilu legislatif (pileg) yang baru saja kita lewati pada 9 April 2014 silam. Lalu, pada 9 Juli 2014 mendatang, akan menyusul pemilu presiden (pilpres) untuk memilih pemimpin tertinggi negara dan wakilnya.

Dengan digelarnya kedua momen pemilu tersebut berarti tahun ini kita akan memiliki seorang presiden dan seorang wakil presiden baru, 560 anggota DPR RI, 125 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan lebih dari 2000 anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Akankah mereka yang terpilih kelak benar-benar menjadi pemimpin atau pejabat publik yang mau melayani dan bukan dilayani. Bersediakah mereka menjadi yang berkorban demi orang banyak, dan bukan hanya mencari keuntungan diri sendiri atau kelompoknya?

Sungguh menarik menyimak masa Prapaskah Keuskupan Agung Jakarta 2014 yang mengusung tema: “Dipilih untuk Melayani”. Inilah sebuah ajakan sekaligus sebuah penegasan bahwa siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin atau pejabat publik, pada hakikatnya dia adalah pelayan. Tugasnya adalah untuk melayani rakyat. Seorang pemimpin tak boleh takut bermandi keringat dan berlumuran lumpur untuk melayani rakyat yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin-pelayan akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka yang dilayaninya, ikhlas dalam pengabdian, dan rela berjuang tanpa pamrih. Mereka selalu berada di depan untuk melawan ketidakdilan, ketidakjujuran, tindakan sewenang-wenang, tindak korupsi, dan lain-lain.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang tidak dapat memejamkan mata saat orang yang dipimpinnya tidak dapat memejamkan mata karena masalah-masalah yang sedang melanda mereka. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang merasa tidak enak makan saat orang yang dipimpinnya masih bekerja keras memikirkan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggungan bersama pemimpinnya.

Harga sebuah kepemimpinan yang melayani adalah kesediaan sang pemimpin tersebut untuk berkorban demi orang lain. Bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.

Mereka bersedia untuk tidak populer, mau blusukan untuk menjumpai dan menyapa mereka yang membutuhkan cinta dan perhatiannya. Mereka tidak silau dengan kursi kekuasaannya, jauh dari sikap otoriter, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara daripada kepentingan dirinya sendiri. Bobot kepemimpinan yang melayani selalu menjadikan pengorbanan sebagai mata hatinya.

Di era modern sekarang ini, memang tak mudah kita menemukan pemimpin sejati seperti itu. Pemimpin sekarang ini lebih berkarakter dilayani daripada melayani, lebih sibuk dengan urusan diri dan kerabatnya daripada kepentingan publik. Makanya makna Paskah kali ini menjadi sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.

Di saat kita sedang dilanda kekeringan pemimpin yang melayani, layaklah kita menaruh asa dengan kelak terpilihnya pemimpin baru, dan para wakil rakyat (baru) pada 2014 ini. Tentu, dengan satu harapan besar: jadilah pemimpin yang melayani dengan ketulusan hati dan penuh pengobanan. Pertaruhkan seluruh pikiran, hati, dan tindakan hanya untuk kepentingan rakyat banyak!

Sumber: InvestorDaily Sabtu 19 April 2014

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s