Dibalik iPhone dkk Ada FOXCONN: Pekerja Bagai Robot (Bagian 2 dari 2)

Artikel sebelumnya: https://digitalthree.wordpress.com/2015/02/12/dibalik-iphone-dkk-ada-foxconn-angka-dan-fakta-fantastis-bagian-1-dari-3/

Artikel kali ini akan mengulas perusahaan raksasa dibalik kesuksesan Apple dan kawan kawan. Siapa yang tidak kenal dengan produk Apple? Tentu hampir semua orang minimal pernah mendengarnya. Tapi apakah Anda tahu ada perusahaan lain dibalik suksesnya iPhone dan iPad selama ini? Simaklah artikel berseri digitalthree kali ini. Selamat Membaca.

Senin pagi di pabrik Foxconn selalu diawali dengan apel. Para pekerja di jalur perakitan mengikuti instruksi dari supervisor mereka. Kemudian setelah itu mereka baru mengenakan jaket putih dan topi, layaknya standar outfit tpekerja pabrik. Protokol keamanan pun harus diikuti. Mereka wajib melewati detektor logam, dan dalam beberapa menit mereka sudah berada di lini produksi, siap untuk bekerja Seperti itulah “ritual” di Pabrik Foxconn di Zhengzhou, Cina yang memproduksi iPad lebih dari 96,45 juta Phone pada tahun lalu. Para pekerja di bagi dalam beberapa kelompok dan masing—masing kelompok bertanggung jawab atas salah satu bagian kecil dari iPad, misal seperti pemasangan chip, motherboard, baterai, atau screen. Untuk pengerjaan proses perakitan ini, Foxconn menyediakan puluhan workstation dengan ribuan orang yang melakukan pekerjaan yang sama secara berulang terus—menerus.

foxconn-factory

Jurnalis yang sempat melihat cara kerja di pabrik Foxconn menunjukkan bahwa pekerja Foxconn memiliki ritme kerja yang rapi dan harmonis. Bahkan, salah seorang jurnalis mengatakan, “ritme kerja mereka cukup menghipnotis orang awam.” Di lini produksi akhir, para pekerja bekerja secepat mungkin untuk mengepak satu set iPad ke dalam box dan hanya diperlukan waktu dua detik untuk proses akhir pengemasan ini. Para pekerja juga tidak banyak berbicara. Mereka fokus akan pekerjaan di lini perakitan. Meskipun keadaan di lini perakitan ini terkesan “baik—baik saja”, apakah para pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut juga merasa demikian?

“Kami amat sangat lelah dengan tekanan kerja yang dahsyat. Kami melakukan satu (dari sekian banyak) peketjaan setiap tujuh detik, yang mengharuskan kami terus fokus, kerja dan kerja. Kami bekerja lebih cepat daripada mesin. Dalam setiap shift (10 jam), kami menyelesaikan 4000 unit komputer Dell, dan semua dilakukan sambil berdiri. Memang hasilnya bersifat kolektif, namun banyak diantara kami merasa sangat tersiksa.”

url1

Apple pernah meminta kepada Asosiasi Tenaga Ketja AS – Fair Labor Association (FLA) untuk memeriksa kondisi pekerja di Foxconn. Isu standar hidup dan kualitas perusahaan memang sudah menjadi perhatian serius bagi seluruh perusahaan besar dunia, tidak terkecuali Apple Inc. Dari hasil pemeriksaan ini ditemukan beberapa pelanggaran yang terkait jam kerja dan keamanan yang buruk. Faktanya , pekerja Foxconn sering bekerja lebih dari 60 jam dalam sepekan, kadang selama tujuh hari tanpa libur, dan waktu lembur ini bahkan ada yang tidak dibayarkan.

Tidak adanya transparansi antara karyawan dan manajemen, dan absennya reformasi struktural dalam prosedur manajemen perusahaan adalah dua cacat terbesar dalam sistem. Setelah rentetan kasus bunuh diri, Foxconn memang membatasi waktu lembur menjadi 80 jam, namun tetap saja angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding waktu lembur maksimal yang legal, yaitu 36 jam. Karyawan tidak bisa protes, karena mereka telah menanda—tangani perjanjian “Voluntary Overtime Pledge“, yang mereka lakukan untuk menambah pendapatan harian.

Foxconn2

Mike Daisey, seorang monolog asal Amerika, masuk ke lingkungan Foxconn Company dan mewawancarai karyawan untuk keperluan siaran radio The American Life. Dalam laporannya, ia menulis: “Saya berbicara kepada seorang karyawan tua. Tangan kanannya terpuntir dan mengalami cacat tetap. Tangan tersebut tergencet mesin metal pre. di Foxconn. Menurut pengakuannya, ia tidak pernah mendapat penanganan medis apapun, dan tangannya dibiarkan sembuh dengan sendirinya. Kini ia tidak bisa bekerja secepat dulu, dan mereka memecatnya. “Saat ini, pria tersebut bekerja di sebuah pabrik kayu. Menurutnya, bekerja disana lebih menyenangkan. Orang-­orang bersikap lebih baik dan jam kerja lebih masuk akal. Ia bekerja selama 70 jam perminggu.”

Untuk menjaga tingginya efisiensi dan pendapatan, Foxconn dinilai telah mengorbankan kesejahteraan dan martabat karyawannya. Menurut sebuah artikel di China Labor Bulletin, tahun 2013 lalu, gaji dasar di pabrik Shenzen hanya sebesar 1.800 Yuan perbulan, atau sekitar 280 Dolar AS. Lebih rendah 300 Yuan dari UMR yang berlaku. Jumah itu jelas tidak cukup untuk membiayai hidup yang mahal seperti Shenzen di Tiongkok.

Selain itu, karyawan juga bekerja dalam atmosfir yang tidak manusiawi. Menurut riset SACOM (Students Et Scholars Against Corporate Misbehaviour), selama bekerja karyawan tidak boleh bicara, tertawa atau berjalan. Mereka harus tetap berada dalam satu posisi selama jam kerja, dan akan dihukum jika melanggar. Namun herannya, dengan lingkungan kerja demikian, Foxconn membukukan tingkat retensi lebih dari 90 persen (2013). Perusahaan menganggap tingginya presentase ini merefleksikan minat yang tinggi untuk bekerja di Foxconn.

Namun menurut beberapa pakar, tingkat retensi tinggi tidak serta-merta mendefinisikan wawasan karyawan mengenai pekerjaan mereka. Bisa saja, di dunia yang makin kompetitif, karyawan tidak memiliki banyak pilihan. Walaupun standar gaji kecil, tetap saja karyawan harus menghidupi diri dan keluarga mereka.

Sejak mencuatnya kasus yang menimbulkan korban jiwa pekeda di pabrik Foxconn, reputasi Foxconn tidak terlalu gemilang. Perusahaan tersebut menerima banyak kritik, khususnya terkait lingkungan kerja dan karyawan yang dipekerjakan di dalamnya. Kritik yang dilayangkan kebanyakan seputar karyawan di bawah umur, praktek bisnis yang tidak etis, dan pelanggaran hak asasi manusia. Walaupun perusahaan yang terbilang sukses secara finansial ini mampu menyajikan rentetan teknologi mutakhir kepada dunia, di balik tembok beton yang kokoh, tersembunyi kisah pilu dimana karyawan ditekan dan dipekerjakan bagai robot.

Sumber Referensi:

  1. Workers as Machines: Military Management in Foxconn http://germanwatch.org/corp/makeitfair-upd1010rep.pdf
  2. SACOM: Behind the Scene of Apple – Unhealthy Work http://unhealthywork.org/wp-content/uploads/2012_04_11_Lives_of_Foxconn_workers_revised.pdf

About vincenthree

Im young, talented, I like a challenge, reliable, and creative. I try to share about news, knowledge and my experience in my life, my college, you can read any topics, more than digital, IT, musics, autos, adventure, healthy life, etc
This entry was posted in Finance n Economy, IT and Computer's and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s